Sabtu, 12 Februari 2011

TUGAS RESENSI PSIKOLOGI PENDIDIKAN

RESENSI

Terhadap :



ANALISIS KEBUTUHAN PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

DALAM RANGKA PENYUSUNAN PROGRAM LAYANAN DASAR BIMBINGAN

Gendon Barus & M.M. Sri Hastuti

Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling, FKIP,

Universitas Sanata Dharma

Tromol pos 29, Mrican, Yogyakarta



Ditulis sebagai Tugas Mata Kuliah Psikologi Pendidikan

Program studi Magister Administrasi Pendidikan

Program Pasca Sarjana UHAMKA





OLEH

Hj. SUWARTINAH

NIM : 1008036085

PROGRAM PASCA SARJANA MAGISTER ADMINISTRASI PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA ( UHAMKA )

JAKARTA

2010





KATA PENGANTAR



Alhamdulillah Wasyukurillah kami panjatkan kehadirat Illahirobbi, yang telah menganugerahkan Taufik, Hidayah, Inayah dan RahmatNYA, sehingga tugas penyusunan makalah ini dapat penulis selesaikan.

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah Psikologi Pendidikan. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada ibu Dr. Suswandari M.Pd selaku dosen mata kuliah Psikologi Pendidikan dan semua pihak yang telah memberikan bimbingan, dorongan serta arahannya baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dalam makalah ini penulis membuat resensi dari Widya Dharma Jurnal Kependidikan dengan tajuk masalah ANALISIS KEBUTUHAN PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK DALAM RANGKA PENYUSUNAN PROGRAM LAYANAN DASAR BIMBINGAN yang disusun oleh Gendon Barus dan M.M. Sri Hastuti. Pada penulisannya Barus dan Hastuti lebih fokus pada hasil penelitiannya dari Deskripsi tingkat kebutuhan perkembangan murid dan analisis butir intensitas kebutuhan perkembangan murid, maka hal itu penulis menganggap merupakan kelebihannya dari hasil penelitian deskriptif dengan data ex post facto, dan pengumpulan instrument datanya menggunakan Inventori Kebutuhan Perkembangan Murid (IKPM). Selanjutnya karena penulis merasa cukup tentang keterkaitan dengan Kebutuhan Perkembangan Murid maka untuk melengkapi makalah ini, penulis akan menambahkan materi atau lebih banyak menyoroti tentang Bimbingan dan Konseling yang memang belum dikupas secara mendalam. Dengan adanya penambahan materi tersebut, diharapkan makalah ini dapat lebih memberikan manfaat bagi para pembaca.

Akhirnya dengan menyadari bahwa” tak ada gading yang tak retak”, maka dengan segala kerendahan hati, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun agar dapat menambah sempurnanya makalah ini. Semoga makalah ini akan berguna bagi para pembaca pada umumnya dan khususnya bagi penulis sendiri.

Penulis

Hj. Suwartinah



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I. PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

B. TUJUAN PENULISAN

BAB II. PEMBAHASAN

A.Pengertian Bimbingan dan Konseling

B.Tujuan Umum dan Tujuan Khusus Bimbingan dan Konseling

C. Jenis-Jenis Bimbingan dan Konseling

D. Fungsi Bimbingan dan Konseling

E.Asas-Asas Bimbingan dan Konseling

F.Pelayanan – Pelayanan Pokok Bimbingan dan Konseling di Sekolah

G.Tugas dan Tanggung Jawab Guru Bimbingan dan Konseling di Sekolah

H. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Aktifitas Belajar Siswa dan Siswi di Sekolah.

I. Upaya Guru Bimbingan dan Konseling dalam Membina Aktifitas Belajar Siswa

BAB III. PENUTUP

A. KESIMPULAN

B. SARAN-SARAN

C. DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN



BAB I

PENDAHULUAN



A. LATAR BELAKANG MASALAH

Pelayanan bimbingan dan konseling semakin populer dikenal oleh masyarakat, khususnya di sekolah, oleh sebab itu pelayanan bimbingan dan konseling terus digalakkan pelaksanaannya. Untuk menyelenggarakan pelayanan ini dengan baik, salah satu syarat pokok yang harus dikuasai adalah memahami pengertian-pengertian dasar tentang bimbingan dan konseling oleh para guru pembimbing (konselor).

Pembahasan pengertian-pengertian dasar tentang bimbingan dan konseling ini diupayakan untuk membantu guru pembimbing (konselor) pemula dalam memperoleh wawasan tentang lingkup dan kerangka kerja pelayanan bimbingan dan konseling yang akan diembannya di sekolah.

Bimbingan dan konseling adalah proses pemberian bantuan, terutama dari aspek psikologi yang dilakukan oleh seorang ahli kepada siswa-siswa peserta didik dalam memahami dirinya, dan menghubungkan dengan lingkungannya, serta memilih, menentukan dan menyusun rencana sesuai dengan konsep diri yang dituntut lingkungan berdasarkan norma-norma yang berlaku.

Pentingnya bimbingan dan konseling di lingkungan dunia pendidikan, bukan saja mengacu pada kenyataan bahwa siswa-siswa peserta didik yang ada di lingkungan sekolah itu tidak sama, masing-masing individu siswa memiliki latar belakang sosial yang berbeda antara satu dan lainnya. Karena itu, ketika menghadapi lingkungan barunya, baik karena kesehatan mentalnya maupun alasan-alasan lainnya. Disinilah, tampak pentingnya posisi bimbingan dan konseling di lingkungan sekolah.

Kebutuhan seorang individu muncul karena pertumbuhan dan perkembangan psiko fisisnya. Dorongan (motif) merupakan faktor utama munculnya kebutuhan dan dorongan tersebut secara alami (asli) maupun karena proses belajar akan mendorong seseorang individu untuk bertingkah laku memenuhi kebutuhannya. Dalam upaya memenuhi kebutuhannya seorang anak banyak menghadapi masalah antara lain adalah kondisi yang amat berbeda antara masa anak-anak dan masa remaja, norma yang amat berbeda karena pengaruh perkembangan zaman

dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga kesulitan dalam menilai kemampuan dirinya dibandingkan dengan permasalahan yang dihadapinya serta kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan kondisi yang amat komplek.



B. TUJUAN PENULISAN

Dengan latar belakang penulis BARUS dan HASTUTI yang bermaksud menginformasikan kepada para pembaca umumnya, dan guru SD pada khususnya. Hasil penelitian sederhana ini dapat bermanfaat dalam memberikan suatu contoh bagaimana guru kelas harus mengawali tahapan penyusunan atau pengembangan program BK di SD. Inspirasi lain yang mungkin tersembunyi dibalik makalah ini adalah tumbuhnya kesadaran para pelaku pendidikan di SD khususnya betapa banyak peserta didik yang menyimpan beragam kebutuhan perkembangan (developmental needs) yang selama ini masih terabaikan dalam pemenuhannya oleh pihak sekolah. Dari proses penyadaran ini, semoga tergugah untuk berbela rasa dan berbelas kasih untuk menawarkan bantuan layanan bimbingan kepada para peserta didik dalam upayanya membangun kemandirian dan mengoptimalkan pengembangan diri.

Hal ini dirasa cukup bagi penulis,selanjutnya penulis akan menambahkan kekurangan dari penulisan Barus dan Hastuti, yaitu masih sebatas pengantar dari bimbingan dan konseling yang dirangkum dalam tujuan penulisan makalah ini, sebagai berikut:

a. Menambah ilmu dan wawasan kita tentang bimbingan dan konseling.

b. Mengetahui tujuan umum dan tujuan khusus, jenis-jenis, fungsi dan asas-asas bimbingan dan konseling.

c. Mengetahui tugas dan tanggung jawab guru bimbingan dan konseling di Sekolah

d. Mengatahui faktor-faktor yang mempengaruhi aktifitas belajar siswa dan siswa di Sekolah.

e. Mengetahui upaya guru bimbingan dan konseling dalam membina aktifitas belajar siswa

f. Menginformasikan hasil analisis asesmen kebutuhan peserta didik dalam aplikasinya terhadap perencanaan program BK di SD, dari tulisan Barus dan Hastuti

g. Memotivasi pihak-pihak terkait, bahwa betapa sangat pentingnya bantuan layanan bimbingan dan konseling bagi peserta didik khususnya di SD

BAB IIPEMBAHASAN Setelah membaca dan memahami hasil penelitian Gendon Barus dan M.M. Sri Hastuti dalam Jurnal Kependidikan dengan tajuk masalah ANALISIS KEBUTUHAN PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK DALAM RANGKA PENYUSUNAN PROGRAM LAYANAN DASAR BIMBINGAN. Pada penulisannya ini Barus dan Hastuti lebih fokus pada hasil penelitian sederhana yang terkait dengan Deskripsi tingkat kebutuhan perkembangan murid dan Analisis butir intensitas kebutuhan perkembangan murid, maka sebagai bentuk penghargaan dari penulis, penulis menganggap itu merupakan kelebihannya dari hasil penelitian deskriptif dengan data ex post facto, dan pengumpulan instrument datanya menggunakan Inventori Kebutuhan Perkembangan Murid (IKPM).

Sesuai dengan tujuan penelitiannya BARUS dan HASTUTI yang bermaksud menginformasikan kepada para pembaca umumnya, dan guru SD pada khususnya. Hasil penelitian sederhana ini dapat bermanfaat dalam memberikan suatu contoh bagaimana guru kelas harus mengawali tahapan penyusunan atau pengembangan program BK di SD. Inspirasi lain yang mungkin tersembunyi dibalik makalah ini adalah tumbuhnya kesadaran para pelaku pendidikan di SD khususnya betapa banyak peserta didik yang menyimpan beragam kebutuhan perkembangan (developmental needs) yang selama ini masih terabaikan dalam pemenuhannya oleh pihak sekolah. Dari proses penyadaran ini, semoga tergugah untuk berbela rasa dan berbelas kasih untuk menawarkan bantuan layanan bimbingan kepada para peserta didik dalam upayanya membangun kemandirian dan mengoptimalkan pengembangan diri.

- Menurut penulis hal ini dirasa cukup bagi pembaca pada umumnya, mengingat Barus dan Hastuti, hanya ingin menginformasikan kepada para pembaca bahwa betapa pentingnya bantuan layanan bimbingan kepada peserta didik selanjutnya penulis akan melengkapi makalah ini, dengan menambahkan materi atau lebih banyak menyoroti tentang Bimbingan dan Konseling yang memang belum dikupas secara mendalam oleh Barus dan Hastuti, antara lain pengertian bimbingan dan konseling, tujuan umum dan tujuan khusus dari bimbingan dan konseling, fungsi dan asas-asas bimbingan dan konseling dllnya, inipun hanya sebatas Pengantar Bimbingan Konseling atau dalam

artian masih taraf APA?, MENGAPA? dan yang selanjutnya akan di bahas di tulisan-tulisan berikutnya nanti.

- Untuk selanjutnya penulis menemukan disana sini masih banyak kekurangan-kekurangan yang berkaitan dengan metodologi penelitian yang sesungguhnya, kembali penulis mengingatkan bagi pembaca bahwa penelitian dari Barus dan Hastuti ini dari sejak awal sudah mengatakan penelitian sederhana ini, itupun di buat sebagai bentuk keprihatinannya terhadap peserta didik khususnya di SD, yang dirasa belum terpenuhinya hak-hak bimbingan dari pihak pelaku pendidikan/sekolah, yang secara umum pihak pemerintah. Jadi tidaklah bijaksana kalau menilai secara sebenarnya, namun menulis akan sedikit mengulas:

- Barus dan Hastuti menyampaikan “ Penelitian ini tergolong penelitian deskriptif dengan data ex post facto yang dihimpun melalui survey. Subyek penelitian adalah 456 orang murid kelas 5 dan 6 dari 16 kelas yang tersebar pada 6 SD, yaitu SDK Wirobarajan, SDK Baciro di wilayah Kota Yogyakarta, SDNN Meijing, SDN Patran di wilayah Sleman, SDN Tlogo dan terakhir SDN Ngebel di wilayah Bantul.” Sedangkan seharusnya dalam penelitian yang sesungguhnya, jadwal dan variable harus di tentukan.

Populasi yang dijadikan sampel harus bersifat representative ( mewakili ), maka disini di perlukan tehnik dalam pengambilan sampel tersebut, mengingat jumlah murid dari masing-masing sekolahan tidak sama, maka sebaiknya dilakukan random, maka pengambilan sampelnya perlu menggunakan stratified sampling random.

- Berikutnya perlunya penentuan jumlah sampel dari populasi yang ada, berapa jumlah anggota sampel yang paling tepat digunakan dalam penelitian? Jawabannya tergantung dari pada tingkat ketelitian atau kesalahan yang dikehendaki. Hal ini bisa memakai tablel yang sudah dikembangkan oleh Isaac dan Michail. Mengingat jumlah murid 456, maka untuk taraf kesalahan 1% = 272, 5% = 198, dan 10% = 171 anak, sebagai sampel.

Hal ini tidak terlihat secara jelas, dalam penelitian ini, “ Bahwa Instrumen pengumpulan data ini menggunakan Inventori Kebutuhan Perkembangan Murid ( IKPM ) yang telah dikembangkan peneliti berdasarkan konsep Brown & Trusty ( 2005:129-130). Inventori ini berbentuk skala penilaian bertingkat dengan empat gradasi yang disusun berdasarkan Likert”s Summated Ratings Principles….

- Selanjutnnya Barus dan Hastuti menyampaikan bahwa data diperoleh dari aplikasi instrument IKPM merupakan data kuantitatif pada tingkat pengukuran ordinal, namun karena dapat dijumlahkan berdasarkan Likert”s Summated Ratings Principles, maka data yang dijumlah tersebut dapat dianggap sebagai data interval ( Azwar,2006). Norma



penyekoran adalah: Amat butuh=4; Butuh=3; Sedikit butuh=2; dan kurang butuh=1. Data dianalisis secara deskriptif dengan tehnik perhitungan mean dan perhitungan persentase berdasarkan data teoritis ( pendekatan penilaian acuan criteria)….

Hanya disini yang penulis herankan juga dari apa yang disampaikan Barus dan Hastuti, bahwa Hasil perhitungan skor rata-rata ( subjek, butir, maupun total ) dikonversikan ke kriteria penelitian kualitatif berskala 5 ( Azwar, 2006:108) sebagai berikut, dalam tulisannya pada table 2. Kriteria Penilaian Kualitatif Tingkat Kebutuhan Perkembangan Murid.

Demikian yang dapat penulis sampaikan, selanjutnya, sesuai yang penulis sampaikan diatas akan menambahkan materi yang sifatnya sebatas Pengantar Bimbingan dan Konseling atau dalam artian masih taraf APA?, MENGAPA?

A. Pengertian Bimbingan dan Konseling

1. Pengertian Bimbingan

Kata bimbingan merupakan terjemahan dari kata guidance, yang berasal dari kata kerja to guide yang mempunyai arti menunjukkan, mengarahkan, menentukan, mengatur atau mengemudikan (Victoria Neufeldt, Ed, 1988:599). Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada individu dari seorang ahli. Akan tetapi, tidak sesederhana itu untuk memahami pengertian bimbingan. Pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh para ahli memberikan pengertian yang saling melegkapi satu sama lain.

Oleh karena itu, untuk memenuhi pengertian bimbingan, perlu dipertimbangkan beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli, berikut.

1. ”Bimbingan merupakan pertolongan pada individu yang bertujuan agar dapat memahami diri sendiri, memanfaatkan semaksimal mungkin bakat, minat dan kemampuan lain yang dimilikinya, dapat menyesuaikan diri dengan situasi – situasi bermacam –macam yang harus dihadapi dalam lingkungannya, dapat mengembangkan kemampuan untuk membuat keputusan secara bijaksana dan memecahkan masalah untuk diri sendiri dan memberi kontribusi kepada masyarakat semaksimal mungkin menurut kemampuan yang dimiliki dengan cara yang khas”. (Jamal Ma’mur Asmani , 2010)

Pengertian ini diartikan bahwa yang dimaksud dengan bimbingan yaitu suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis dari konselor kepada konseling agar tercapai pemahaman, penemuan, pengarahan, dan penyesuaian diri dalam mencapai tingkat perkembangan kemampuan diri.

1. ”Bimbingan merupakan pendidikan dan pengembangan yang menekankan proses belajar yang sistematik.” (Mathewson, 1969)

Pengertian ini dapat dipahami bahwa bimbingan sebagai bentuk pendidikan dan pengembangan diri, tujuan yang diinginkan diperoleh melalui proses belajar.

1. ”Bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis kepada individu untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.” ( I. Djumhur dan Moh. Surya, 1075: 15)

Dengan demikian, individu tersebut memiliki kemampuan untuk memahami dirinya (self understanding), kemampuan untuk menerima dirinya (self acceptance), kemampuan untuk merealisasikan dirinya (self realization) sesuai dengan potensi atau kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan, baik keluarga, sekolah dan masyarakat.

2. Pengertian Konseling

Istilah konseling dapat juga diartikan sebagai penyuluhan tetapi menurut beberapa para ahli istilah penyuluhan dalam kegiatan bimbingan dan konseling kurang tepat. Penggunaan kata konseling lebih tepat karena kegiatan konseling ini sifatnya lebih khusus, pelayanan konseling dimaksudkan untuk memberikan bantuan kepada individu dalam memecahkan masalahnya secara individu

Asal kata Consillium (latin) artinya dengan atau bersama yang dirangkai dengan menerima atau memahami.

Konseling menurut Prayitno dan Erman Amti ( 2004:105), adalah proses bantuan yang di lakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli yang disebut konselor, kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah yang disebut klien.

Menurut Winkel ( 2005:34) yang mengartikan konseling sebagai serangkaian kegiatan yang paling pokok dari bimbingan dalam usaha membantu konseli/klien secara tatap muka dengan tujuan agar klein dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan atau masalah khusus.

Menurut Jamal Ma’mur Asmani (2010) konseling ialah merupakan suatu proses pertemuan langsung antara konselor dan konseli (orang yang dibimbing) yang bermasalah, yaitu pembimbing membantu konseli dalam mengusahakan perubahan sikap dan tingkah laku.

Pendapat di diatas dapat diartikan bahwa kegiatan konseling merupakan upaya bantuan yang diberikan kepada individu atau kelompok secara tatap muka antara pembimbing dan klien yang dilakukan dalam suasana norma – norma yang berlaku, agar klien tersebut dapat memahami dirinya, mengarahkan dirinya dan berperilaku wajara dalam kehidupannya serta dapat memperbaiki tingkah lakunya pada saat ini dan pada masa yang akan datang.

Pada dasarnya proses konseling adalah untuk mengadakan perubahan pada diri klien yang menyatakan adanya yang lain dari keadaan sebelumnya. Berdasarkan beberapa pendapat tentang bimbingan dan konseling, maka dapat disimpulkan bahwa bimbingan dan konseling adalah merupakan proses bantuan atau pertolongan yang diberikan oleh guru bimbingan dan konseling kepada klien melalui pertemuan tatap muka atau hubungan timbal balik antara keduanya, agar klien memiliki kemampuan atau kecakapan melihat dan menemukan masalah serta mampu memecahkan masalahnya sendiri.



B.Tujuan Umum dan Tujuan Khusus Bimbingan dan Konseling di Sekolah



Tujuan umum pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya sejalan dengan tujuan pendidikan itu sendiri karena bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari sistem pendidikan. Pada undang-undang No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa tujuan pendidikan adalah terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya yang cerdas, yang beriman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Sedangkan tujuan bimbingan dan konseling di sekolah, diuraikan H.M. umar, dkk., (1998:20-21) sebagai berikut:

1. Seimbang dalam berbagai aspek fisik, mental dan sosial. Membantu siswa-siswa untuk mengembangkan pemahaman diri sesuai dengan kecakapan, minat, pribadi, hasil belajar, serta kesempatan yang ada.

2. Membantu siswa-siswa untuk mengembangkan motif-motif dalam belajar, sehingga teercapai kemajuan pengajaran yang berarti.

3. Memberikan dorongan di dalam pengarahan diri, pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan keterlibatan diri dalam proses pendidikan.

4. Membantu siswa-siswa untuk memperoleh kepuasan pribadi dalam penyesuaian diri secara maksimal terhadap masyarakat.

5. Membantu siswa-siswa untuk hidup di dalam kehidupan yang seimbang dalam berbagai aspek fisik, mental dan sosial



C. Jenis – Jenis Bimbingan dan Konseling di Sekolah



1. Bimbingan Pendidikan (Educational Guidance) diberikan kepada anak dalam bimbingan pendidikan berupa informasi pendidikan, cara belajar yang efektif, pemilihan jurusan, lanjutan sekolah, mengatasi masalah belajar, mengambarkan kemampuan dan kesanggupan secara optimal dalam pendidikan atau membantu agar para siswa dapat sukses dalam belajar dan mampu menyesuaikan diri terhadap semua tuntutan kurikulum sekolah.

2. Bimbingan Pekerjaan merupakan kegiatan bimbingan yang pertama, yang dimulai oleh Frank Parson pada tahun 1908 di Boston, Amerika Serikat. Departemen tenaga kerja di negara ini telah memplopori bimbingan pekerjaan bagi kaum muda agar mereka memiliki bekal untuk terjun ke masyarakat. Bimbingan pekerjaan telah masuk sekolah dan setiap siswa di sekolah lanjutan tingkat pertama dan atas menerima bimbingan karir. konsep parson sangat sederhana, yaitu sekedar membandingkan dan mengkombinasikan antara hasil analisis individual dan hasil analisis dunia kerja.

3. Bimbingan Pribadi merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa untuk membangun hidup pribadinya, seperti motivasi, persepsi tentang diri, gaya hidup, perkembangan nilai-nilai moral / agama dan sosial dalam diri, kemampuan mengerti dan menerima diri orang lain, serta membantunya untuk memecahkan masalah pribadi yang ditemuinya. Ketepatan bimbingan ini lebih terfokus pada pengembangan pribadi, yaitu membantu para siswa sebagai diri untuk belajar mengenal dirinya, belajar menerima dirinya, dan belajar menerapkan dirinya dalam proses penyesuaian yang produktif terhadap lingkunganya. Dalam bimbingan pribadi ini dapat dirinci menjadi pokok-pokok berikut :

a. Pemantapan sikap dan kebiasaan serta pengembangan wawasan dalam beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME

b. Pemantapan pemahaman tentang kekuatan diri dan pengembangan untuk kegiatan - kegiatan yang kreatif dan produktif, baik dalam kehidupan sehari - hari maupun untuk masa depan

c. Pemantapan pemahaman tentang kelemahan diri dan usaha penanggulanganya.

d. Pemantapan kemampuan mengambil keputusan.

e. Pemantapan kemampuan mengarahkan diri sesuai dengan keputusan yang diambilnya.

f. Pemantapan kemampuan berkomunikasi, baik melalui lisan maupun tulisan secara efektif

g. Pemantapan kemampuan menerima dan menyampaikan pendapat serta berargumentasi secara dinamis, kreatif dan produktif.

D. Fungsi Bimbingan Dan Konseling

Adapun fungsi bimbingan dan konseling di sekolah adalah sebagai berikut :

1. Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama).

2. Fungsi Preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli. Melalui fungsi ini

3. Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli.

4. Fungsi Penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada siswa yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial,belajar, maupun karir.

5. Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi,danmemantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat,bakat,keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya.

6. Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan siswa.

7. Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.

8. Fungsi Perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu siswa sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir, berperasaan dan bertindak.

9. Fungsi Fasilitasi, memberikan kemudahan kepada siswa dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri siswa.

10. Fungsi Pemeliharaan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu siswa supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusifyangtelah tercipta dalam dirinya.

E. Asas-Asas Bimbingan dan Konseling



Dalam kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah aktivitas yang dilakukan guru pembimbing memiliki asas – asas sebagai berikut :

1. Asas Kerahasiaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakannya data dan keterangan tentang siswa yang menjadi sasaran pelayanan.

2. Asas kesukarelaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan siswa mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang diperlukan baginya.

3. Asas keterbukaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar siswa yang bersifat terbuka dan tidak berpura-pura, baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya.

4. Asas kegiatan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar siswa yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif didalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan.

5. Asas kemandirian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling, siswa sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi siswa yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya,mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan.

6. Asas Kekinian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli dalam kondisinya sekarang.

7. Asas Kedinamisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap siswa sama kehendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.

8. Asas Keterpaduan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis dan terpadu.

9. Asas Keharmonisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada norma yang ada, yaitu nilai norma agama, hukum, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan yang berlaku.

10. Asas Keahlian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional.

11. Asas Alih Tangan Kasus, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan siswa mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli.

F. Pelayanan – Pelayanan Pokok Bimbingan dan Konseling di Sekolah

Menurut Dewa Ketut Sukardi dan Desak P.E Nila Kuswati adalah :

Layanan bimbingan dan konseling di sekolah adalah suatu kegiatan bimbingan dan konseling disebut layanan apabila kegiatan tersebut dilakukan melalui kontak langsung dengan klien dan secara langsung berkenaan dengan permasalahan ataupun kepentingan tertentu dirasakan oleh sasaran layanan itu, kegiatan yang merupakan layanan itu mengemban fungsi tertentu dan pemenuhan fungsi tersebut serta dampak positif layanan yang dimaksudkan diharapkan dapat secara langsung dirasakan oleh sasaran (klien) yang mendapatkan layanan tersebut.







Layanan bimbingan di sekolah meliputi :



1. Layanan Orientasi adalah layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru, terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari, untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan

yang baru itu, sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai, yang berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman.

2. LayananInformasi adalah layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar, pergaulan, karier, pendidikan lanjutan). Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu, dalam bidang pribadi, sosial, belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman.

3. Layanan Konten adalah layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya, dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan.

4. Layanan Penempatan dan Penyaluran adalahlayanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang, kegiatan ekstrakurikuler, dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap bakat, minat dan segenap potensi lainnya. Layanan penempatan dan penyaluran berfungsi untuk pengembangan.

5. Layanan Konseling Perorangan adalahlayanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi.

6. Layanan Bimbingan Kelompok adalahlayanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial, serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan

tertentu melalui dinamika kelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial, serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Layanan bimbingan kelompok berfungsi untuk pemahaman dan pengembangan

7. Layanan Konseling Kelompok adalahlayanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Layanan konseling kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi.

8. Konsultasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik.

9. Mediasi,yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antar mereka.

Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukakan di atas, perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung, yaitu :

1. Aplikasi instrumentasi data merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik, tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya, yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen, baik tes maupun non tes, dengan tujuanuntuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan.

2. Himpunan data :merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematik, komprehensif, terpadu dan sifatnya tertutup.

3. Konferensi kasus :merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang

terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien.

4. Kunjungan rumah :merupakan kegiatan untuk memperoleh data, keterangan, kemudahan, dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan, dengan

tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien.

5. Alih tangan kasus :merupakan kegiatan untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten, seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor, dokter serta ahli lainnya, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten.

G. Tugas dan Tanggung Jawab Guru Bimbingan dan Konseling di Sekolah

Beban tugas dan tanggung jawab pembimbing menurut surat keputusan bersama Kementerian Pendidikan dan Kepala Badan Adminitrasi Kepegawaian Negara (BAKN) No. 433/PM/1993 dan No. 25 Tahun 1993, bahwa :

Guru pembimbing adalah guru yang mempunyai tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh dalam kegiatan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah siswa. Beban tugas guru pembimbing meliputi kegiatan – kegiatan antara lain :

1. Guru bimbingan dan konseling/konselor memiliki tugas, tanggungjawab, wewenang dalam pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik. Tugas guru bimbingan dan konseling/konselor terkait dengan pengembangan diri peserta didik yang sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, dan kepribadian peserta didik di sekolah/madrasah.

2. Tugas guru bimbingan dan konseling/konselor yaitu membantu peserta didik dalam:

a. Pengembangan kehidupan pribadi yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami, menilai bakat dan minat.

b. Pengembangan kehidupan sosial yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial dan industrial yang harmonis, dinamis, berkeadilan dan bermartabat.

c. Pengembangan kemampuan belajar yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar untuk mengikuti pendidikan sekolah/madrasah secara mandiri.

d. Pengembangan karir yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi, serta memilih dan mengambil keputusan karir.

e. Guru mata pelajaran, guru pembimbing, konselor yang membimbing 150 siswa dihargai sebanyak 18 jam, selebihnya dihargai sebagai bonus dengan ketentuan sebagai berikut :

1) 10 – 15 siswa : 2 jam

2) 16 – 30 siswa : 4 jam

3) 31 – 45 siswa : 6 jam

4) 46 – 60 siswa : 8 jam

5) 61 – 75 siswa : 10 jam

6) 76 > siswa : 12 jam

Tanggung jawab dan wewenang guru pembimbing diatur dalam keputusan Menteri No. 84 Tahun 1993, Bab II Pasal 3, yaitu :

1. Menyusun program bimbingan dan konseling yaitu membuat rencana persiapan pelayanan bimbingan dan konseling dalam bidang bimbingan pribadi-sosial, bimbingan belajar dan bimbingan karir serta tujuh jenis layanan yaitu layanan orientasi, informasi, penempatan penyaluran, pembelajaran, konseling perorangan, bimbingan kelompok dan konseling kelompok.

2. Melaksanakan program bimbingan dan konseling yaitu melakukan pelayanan dalam bidang – bidang bimbingan pribadi-sosial, belajar dan karir beserta tujuh jenis layanan.

3. Mengevaluasi pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling yaitu melakukan evaluasi dalam empat bidang bimbingan serta tujuh jenis layanan dalam bimbingan dan konseling.

4. Menganalisa hasil evaluasi pelaksanaan bimbingan dan konseling yaitu menelaah hasil evaluasi dalam empat bidang bimbingan serta tujuh jenis layanan dalam bimbingan dan konseling.

5. Melaksanakan tindak lanjut pelaksanaan bimbingan dan konseling yaitu kegiatan menindaklanjuti hasil analisis terhadap hasil evaluasi pelaksanaan layanan dalam empat bidang bimbingan dan tujuh jenis layanan.

6. Membimbing siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler yaitu ketentuan pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler bagi guru pembimbing sama dengan ketentuan yang berlaku bagi guru mata pelajaran maupun guru praktek.

7. Membimbing guru pembimbing dalam proses bimbingan yaitu guru pembina sampai dengan guru utama mempunyai wewenang penuh untuk membimbing guru pembimbing yang masih junior.

Berdasarkan uraian diatas dapat diartikan keberadaan guru pembimbing sangat dibutuhkan dalam upaya pengembangan aktifitas belajar siswa secara optimal, seorang guru pembimbing memberikan pelayanan terhadap 150 siswa, yang sesuai dengan ketentuan diatas pula bahwa tugas pokok guru pembimbing adalah menyusun program bimbingan, melaksanakan program bimbingan dan tindak lanjut dalam program bimbingan terhadap peserta didik yang menjadi tanggungjawabnya.

Dalam proses belajar untuk mempertahankan kehidupannya siswa harus dapat memenuhi kebutuhannya baik yang disadari maupun yang tidak disadari, yang bersifat jasmaniah maupun rohaniah. Salah satu kebutuhan tersebut adalah belajar, yang merupakan proses perubahan tingkah laku seseorang berkat pengalaman dan latihan. “Menurut Anwar Kasim belajar ialah proses interaksi antar individu (peserta didik) dengan lingkungannya yang memungkinkan terjadinya perubahan – perubahan yang relatif permanen pada pusat syaraf (otak)”.

Belajar merupakan salah satu konsep yang amat mendasar dari psikologi. manusia belajar untuk hidup. Tanpa belajar, seseorang tidak akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya, dan dengan belajar manusia mampu berbudaya dan mengembangkan harkat kemanusiaannya. Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu. Penguasaan yang baru itulah tujuan belajar dan pencapaian sesuatu yang baru itulah tanda - tanda perkembangan, dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotor/keterampilan

.Untuk terjadinya proses belajar diperlukan prasyarat belajar, baik berupa prasyarat psiko-fisik yang dihasilkan dari kematangan ataupun hasil belajar sebelumnya. Untuk memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan belajar terdapat beberapa teori belajar yang bisa dijadikan rujukan, diantaranya adalah :

1. Behavioristik : Pembelajaran selalu memberi stimulus kepada siswa agar menimbulkan respon yang tepat seperti yang kita inginkan. Hubunagn stimulus dan respons ini bila diulang kan menjadi sebuah kebiasaan.selanjutnya, bila siswa

menemukan kesulitan atau msalah, guru menyuruhnya untuk mencoba dan mencoba lagi (trial and error) sehingga akhirnya diperoleh hasil.

2. Kognitivisme : Pembelajaran adalah dengan mengaktifkan indera siswa agar memperoleh pemahaman sedangkan pengaktifan indera dapat dilaksanakan dengan jalan menggunakan media/alat Bantu. Disamping itu penyampaian pengajaran dengan berbagai variasi artinya menggunakan banyak metode.

3. Humanistic : Dalam pembelajaran ini guru sebagai pembimbing memberi pengarahan agar siswa dapat mengaktualisasikan dirinya sendiri sebagai manusia yang unik untuk mewujudkan potensi - potensi yang ada dalam dirinya sendiri. Dan siswa perlu melakukan sendiri berdasarkan inisisatif sendiri yang melibatkan pribadinya secara utuh (perasaan maupun intelektual) dalam proses belajar agar dapat memperoleh hasil.

4. Sosial/Pemerhatian/permodelan : Proses pembelajaran melalui proses pemerhatian dan pemodelan Bandura (1986) mengenal pasti empat unsur utama dalam proses pembelajaran melalui pemerhatian atau pemodelan, yaitu perhatian (attention), mengingat (retention), reproduksi (reproduction), dan penangguhan (reinforcement) motivasi (motivion).



Aktivitas Belajar

Aktivitas belajar akan terjadi interaksi antara situasi stimulus dengan isi memori sehingga perilakunya berubah dari waktu sebelum dan setelah adanya situasi stimulus tersebut. Perubahan perilaku pada diri pembelajar itu menunjukkan bahwa pembelajar telah melakukan aktivitas belajar. Pengajaran yang efektif adalah pengajaran yang menyediakan kesempatan belajar sendiri atau melakukan aktivitas sendiri, aktivitas belajar dibagi menjadi delapan kelompok, yaitu:

1. Kegiatan-kegiatan visual : membaca, melihat, gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, dan mengamati orang lain bekerja atau bermain.

2. Kegiatan - kegiatan lisan : mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi, dan interupsi.

3. Kegiatan - kegiatan mendengarkan : mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan, mendengarkan radio.

4. Kegiatan - kegiatan menulis : menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan kopi, membuat rangkuman, mengerjakan tes, dan mengisi angket.

5. Kegiatan - kegiatan menggambar : menggambar, membuat grafik, chart, diagram peta, dan pola.

6. Kegiatan - kegiatan metric : melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan, menari, dan berkebun.

7. Kegiatan - kegiatan mental : merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis, faktor-faktor, melihat, hubungan-hubungan dan membuat keputusan

8. Kegiatan - kegiatan emosional : minat, membedakan, berani, tenang, dan lain-lain. kegiatan-kegiatan dalam kelompok ini terdapat dalam semua jenis kegiatan dan overlap satu sama lain.

H. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Aktifitas Belajar Siswa dan Siswi di Sekolah.

Dalam membina aktifitas belajar yang baik, banyak sekali faktor yang perlu diperhatikan, karena di dalam dunia pendidikan tidak sedikit siswa yang mengalami kegagalan. Kadang ada siswa yang memiliki dorongan yang kuat untuk berprestasi dan kesempatan untuk meningkatkan prestasi, tapi dalam kenyataannya prestasi yang dihasilkan di bawah kemampuannya.

Pada umunya kesulitan merupakan suatu kondisi tertentu yang ditandai dengan andanya hambatan – hambatan dalam kegiatan mencapai tujuan, sehingga memerlukan usaha lebih giat lagi untuk dapat mengatasi. Kesulitan belajar dapat diartikan sebagai suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai adanya hambatan – hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar.

Untuk meraih prestasi belajar yang baik banyak sekali faktor-faktor yang perlu diperhatikan.

1. Faktor internal

Merupakan faktor yang berasal dari dalam diri siswa yang dapat mempengaruhi prestasi belajar. Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu :

a. Faktor fisiologis Aktifitas Layanan Guru Bimbingan dan Konseling dalam Membina Aktifitas Belajar Siswa Dalam hal ini, faktor fisiologis yang dimaksud adalah faktor yang berhubungan dengan kesehatan dan pancaindera

1) Kesehatan badan

Untuk dapat menempuh studi yang baik siswa perlu memperhatikan dan memelihara kesehatan tubuhnya. Keadaan fisik yang lemah dapat menjadi penghalang bagi siswa dalam menyelesaikan program studinya. Dalam upaya memelihara kesehatan fisiknya, siswa perlu memperhatikan pola makan dan pola tidur, untuk memperlancar metabolisme dalam tubuhnya. Selain itu, juga untuk memelihara kesehatan bahkan juga dapat meningkatkan ketangkasan fisik dibutuhkan olahraga yang teratur.

2) Pancaindera

Berfungsinya pancaindera merupakan syarat dapatnya belajar itu berlangsung dengan baik. Dalam sistem pendidikan dewasa ini di antara pancaindera itu yang paling memegang peranan dalam belajar adalah mata dan telinga. Hal ini penting, karena sebagian besar hal-hal yang dipelajari oleh manusia dipelajari melalui penglihatan dan pendengaran. Dengan demikian, seorang anak yang memiliki cacat fisik atau bahkan cacat mental akan menghambat dirinya didalam menangkap pelajaran, sehingga pada akhirnya akan mempengaruhi prestasi belajarnya di sekolah.

b. Faktor psikologis

Ada banyak faktor psikologis yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa, antara lain adalah :

1) Intelligensi

Prestasi belajar yang ditampilkan siswa mempunyai kaitan yang erat dengan tingkat kecerdasan yang dimiliki siswa. Taraf inteligensi ini sangat mempengaruhi prestasi belajar seorang siswa, di mana siswa yang memiliki taraf inteligensi tinggi mempunyai peluang lebih besar untuk mencapai prestasi belajar yang lebih tinggi. Sebaliknya, siswa yang memiliki taraf inteligensi yang rendah diperkirakan juga akan memiliki prestasi belajar yang rendah. Namun bukanlah suatu yang tidak mungkin jika siswa dengan taraf inteligensi rendah memiliki prestasi belajar yang tinggi, juga sebaliknya .

2) Sikap

Sikap yang pasif, rendah diri dan kurang percaya diri dapat merupakan faktor yang menghambat siswa dalam menampilkan prestasi belajarnya.

3) Motivasi

Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non intelektual. Peranannya yang khas ialah dalam hal gairah atau semangat belajar, siswa yang termotivasi kuat akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar.

2. Faktor Eksternal

Selain faktor-faktor yang ada dalam diri siswa, ada hal-hal lain diluar diri yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang akan diraih, antara lain adalah :

a. Faktor lingkungan keluarga

1) Sosial ekonomi keluarga

Dengan sosial ekonomi yang memadai, seseorang lebih berkesempatan mendapatkan fasilitas belajar yang lebih baik, mulai dari buku, alat tulis hingga pemilihan sekolah

2) Pendidikan orang tua

Orang tua yang telah menempuh jenjang pendidikan tinggi cenderung lebih memperhatikan dan memahami pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya, dibandingkan dengan yang mempunyai jenjang pendidikan yang lebih rendah.

3) Perhatian orang tua dan suasana hubungan antara anggota keluarga

Dukungan dari keluarga merupakan suatu pemacu semangat berpretasi bagi seseorang. Dukungan dalam hal ini bisa secara langsung, berupa pujian atau nasihat; maupun secara tidak langsung, seperti hubugan keluarga yang harmonis.

b. Faktor lingkungan sekolah

1) Sarana dan prasarana

Kelengkapan fasilitas sekolah, seperti :

a) Lapangan dan alat – alat pendukung proses belajar

b) Bentuk ruangan kelas

c) Lab. BK, IPA, Komputer, dll

2) Kompetensi guru dan siswa

Kualitas guru dan siswa sangat penting dalam meraih prestasi, kelengkapan sarana dan prasarana tanpa disertai kinerja yang baik dari para penggunanya akan sia-sia. Bila seorang siswa merasa kebutuhannya untuk berprestasi dengan baik di sekolah terpenuhi, misalnya dengan tersedianya fasilitas dan tenaga pendidik yang berkualitas yang dapat memenuhi rasa ingin tahunya, hubungan dengan guru dan teman-temannya berlangsung harmonis, maka siswa akan memperoleh iklim belajar yang menyenangkan. Dengan demikian, ia akan terdorong untuk terus-menerus meningkatkan prestasinya.

Adapun yang menyebabkan seorang guru atau konselor tidak tepat dalam menentukan diagnosis adalah sedikit sekali gambaran yang dimiliki tentang sebab – sebab yang memungkinkan kesulitan belajar tertentu dan kurang memiliki cara yang efektif dalam menentukan penyebab sebenarnya diantara beberapa kemungkinan sebab atau sekurang – kurangnya sebab yang paling kuat atau paling berpengaruh, dengan kata lain secara positif yang bijaksana dan efisien adalah seorang yang mengetahui berbagai kemungkinan yang beralasan tentang faktor – faktor yang mungkin merupakan sebab kesulitan belajar seorang murid dan mengetahui cara di antara kemingkinan – kemungkinan tersebut.

3) Kurikulum dan metode mengajar

Hal ini meliputi materi dan bagaimana cara memberikan materi tersebut kepada siswa. Metode pembelajaran yang lebih interaktif sangat diperlukan untuk menumbuhkan minat dan peran serta siswa dalam kegiatan pembelajaran.

4) Ekstrakulikuler

Adanya kegiatan – kegiatan belajar di luar kelas akan melengkapi kurikulum sekolah yang telah dibuat, kegiatan ekstrakulikuler adalah sebagai wadah aspirasi siswa dalam mengembangkan bakat dan minatnya. Sebagai contoh : tidak semua siswa memiliki kemampuan dalam menghitung namun siswa tersebut memiliki bakat dalam bidang olah raga, hal ini dapat diambil untuk mengembangkan kemampuannya pada sisi lain yang kemungkinan menghasilkan minat pada bidang studi berhitung dan menghasilkan prestasi yang dapat membawa nama baik sekolah dan menghasilkan pengalaman yang berarti bagi siswa tersebut.

Sebagai contoh kegiatan ekstrakurikuler :

a) Rohani Islam (ROHIS)

b) Olah raga (sepak bola, badminton, dll)

c) Seni (marawis, qosidah, vocal grup, band, melukis, drama, dll)

d) Bahasa (club bahasa inggris, club bahasa arab, dll)

e) Pramuka

f) Paskibra

g) PMR

I. Upaya Guru Bimbingan dan Konseling dalam Membina Aktifitas Belajar Siswa



Keberhasilan belajar siswa tidak hanya tergantung pada kebutuhan lahiriah saja, akan tetapi adanya usaha peningkatan hasil belajar. Hasil belajar yang didapat dari proses belajar yang telah memperoleh bimbingan, dorongan, lingkungan diwujudkan dalam bentuk perubahan perilaku ke arah yang lebih baik, perubahan dalam pengetahuan, sikap keterampilan, dan perubahan yang mencakup mental spritual.

Cara – cara membina aktifitas belajar siswa adalah sebagai berikut :

1. Mengadakan pengajaran perbaikan (remedial teaching)

2. Mengadakan Pengajaran – pengajaran

Bentuk pengajaran yang khusus kepada siswa yang sangat tepat dalam belajar agar dapat lebih ditingkatkan lagi kemampuannya memperluas dan memperdalam pengetahuan, misalnya Perdalaman Materi (PM) untuk mata pelajaran Ujian Nasional (UN).

3. Membantu siswa merencanakan belajar yang baik menurut pokok dan sub pokok bahasan yang akan dipelajari, tujuan yang dicapai, cara mempelajari materi pelajaran dan alat – alat yang diperlukan.

4. Membantu siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas, apa yang harus dilakukan sebelum mengikuti kegiatan belajar, bagaimana cara memahami dan mencatat keterangan yang disampaikan guru dan apa yang dilakukan setelah belajar berakhir

5. Melatih siswa membaca cepat

6. Melatih siswa untuk dapat mempelajari buku – buku pelajaran secara efisien

7. Membiasakan siswa mengajarkan tugas – tugas secara teratur, bersih dan rapi

8. Membantu siswa dalam mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian, mempersiapkan mental, penguasaan bahan pelajaran yang akan diuji, cara menjawab soal dan sisi administratif penyelengaraan ujian.

Oleh karena itu upaya yang dilakukan guru bimbingan dan konseling dalam membina aktifitas belajar siswa disekolah adalah dengan membangkitkan motivasi belajar siswa, meningkatkan proses belajar, pembinaan dan pengarahan, pemberian perhatian intensif dan adanya dorongan yang kuat pada individu untuk mencapai prestasi belajar yang optimal. Peran layanan bimbingan dan konseling dalam meningkatkan prestasi siswa di sekolah akan membawa hasil yang maksimal jika pihak sekolah dalam hal ini guru pembimbing bekerja sama dengan guru bidang studi pelajaran dan orang tua / wali siswa dalam membahas kegiatan belajar mengajar siswa baik di sekolah maupun di rumah.

BAB III

PENUTUP



A. KESIMPULAN

Bertitik tolak dari penelitian sederhana yang telah dilakukan Barus dan Hastuti yang prihatin terhadap perkembangan-perkembangan yang terjadi di sekolahan khususnya di SD. Dari hasil akhir yang teridentifikasi sangat tinggi dan tinggi, yaitu beragam kebutuhan perkembangan murid yang mendesak untuk mendapatkan bantuan pelayanan bimbingan terkonsentrasi pada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan untuk berlatih mengembangkan diri, ketrampilan belajar, konsep diri, dan kecakapan sosial.

B. SARAN-SARAN

Saran bagi pemerintah:

Sesuai Surat Keputusan Menpan No. 84, Tahun 1993 sebenarnya menugaskan guru kelas di SD untuk merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi program BK bagi peserta didik pada masing-masing kelas yang di asuhnya, namun karena dihimpit oleh tumpukan tugas pokok untuk mengajar berbagai mata pelajaran, maka guru kelas kurang berdaya atau bisa dibilang tidak mampu, alangkah bijaksananya apabila pihak pemerintah menyamakan halnya dengan di SMP atau SLTA, yaitu ada guru SD yang khusus dari para ahli yaitu Sarjana BK, mengingat betapa pentingnya peranan BK dewasa ini, yang pada khususnya di SD. Apalagi anak-anak SD yang sekarang ini sudah sangat rentan sekali dari pengaruh-pengaruh informasi media visual, Koran, tabloid, majalah, juga media komunikasi audiovisual yaitu HP,TV,VCD, DVD ataupun Film.

Saran untuk Guru:

Mengingat pentingnya peran BK terhadap anak didik, maka seorang guru BK haruslah mencintai pekerjaannya,dan anak didik yang dihadapinya.

Seorang guru BK harus mempunyai pengetahuan yang cukup luas, sehingga saat menghadapi anak-anak lebih bersikap sabar dan mengayomi.

Seorang guru BK harus berfikiran positif, supel,ramah tamah, sehingga bisa mendekat ke anak didik.

Bagi guru kelas yang terpanggil untuk merencanakan dan melaksanakan BK di kelasnya, tentunya ada pepatah “ Seribu satu jalan menuju ke Roma”, dalam hal ini, bisa mengikuti seminar-seminar, bisa belajar dengan teman sejawat, dengan banyak membaca buku-buku tentang BK, dllnya





























































DAFTAR PUSTAKA



Jamal, Ma’mur, Asmani. 2010. Panduan Efektif Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jogjakarta: Diva Press.

Departeman Pendidikan Nasional.1994. Petunjuk Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Depdiknas. Jakarta.

H. Mulyadi .2008. Diagnosis Kesulitan Belajar. Jogjakarta:Nuha Litera.

Anwar Kasim. 2001. Bimbingan Konseling Belajar. Universitas Negeri Jakarta. Thantawy. R. 1995. Manajemen Bimbingan dan Konseling. Jakarta: PT Pamator. http://akhmad sudrajat.wordpress.com

Dewa, Ketut, Sukardi dan Desak P.E. Nila Kusmawati. 2008. Proses Bimbigan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Salahudin, Anas.2010. Bimbingan dan Konseling. Bandung: Pustaka Setia.

Walgito, Bimo. 2010. Bimbingan dan Konseling (Studi + Karier). Yogyakarta: Andi Offset.

Santrock, John W. 2010. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Sugiono.DR. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar